"AIR"
Hilang bagai tak beralam hadir merajut asa.
Mata kehidupan entah kemana,panca indra raga mulai tua.
Hukum alam begitu besar entah dimana rimbanya.
Mimpi hanyalah bias dahaga.
AIR buas tak terkira liar karena terbelenggu.
Pantun janda hanyalah twitan (celoteh) ditengah perang sang pujangga diantara pasukan.
Air dahagaku tehadap buaian cinta diantara kasih sayang yg selalu lenyap.
Puing medan laga seakan rungkad (rugi), saat upah tak seberapa namun cukup menghangatkan dahaga bidadari manusiawi.
Pengetahuan selalu langka bagai ilmu yang dicari,mengalir lalu menguap ditelan dahaga.
Dituang dalam kitad suci tak pernah sempurna karena aus pada peradapan.
Para pahlawa dinanti yang haus belaian.
Dibumbui diracik manis dan asinnya kehidupan,hanya sebuah keringat asam bagai cukak namun penuh penantian bagi sang Dewi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar